Kamis, 28 November 2013

Peninggalan masa Perundagian

NEKARA

a.       Islitah Nekara.
Nama nekara terdapat dalam berbagai bahassa mulai dari Kettledrum sebagai nama yang sering digunakan. Nama lokal di indonesia seperti bulan (sasih) untuk menyebut nama nekara dari Pejeng (Bali), Tifa Guntur (maluku), makalamau(sangeang). Untuk menyebut nekara tipe pejeng di pulau alor digunakan nama Moko, di pulau Pantar disebut Kuang,dan di pulau Flores timur dinamakan Wulu.
Di Eropa, yaitu di jerman nekara  disebut dengan nama pauke, dalam bahasa belanda  ketlertom, dalam bahasa Denmark kedeltromen,dalam bahasa Prancis tambour metaliqu. Beberapa istilah tersebut pada umumnya memiliki arti yang sama yaitu genderang.
Di Asia tenggara nekara dalam bahasa Vietnam disebut Dong-co atau trong, myanmar hpaizi, Laos kammu, Thailand mahoratuk, dan bahasa Malaysia gendang Don Son.
Nekara secara proporsiaonal dibagi  dalam tiga bagian, yaitu bagian atas,tengah dan bawah. Bagian atas dibagi menjadi bidang pukul dan bahu. Bagian tengah atau sering juga disebut bagian pinggang. Bagian bawah atau juga disebut bagian yang paling bawah berongga tidak tertutup.
Pada nekara terdaapat hiasan-hiasan yang dibagi dalam kelompok besar dan kecil. Dalam kelompok besar kelompok ini di sebut ruang. Sedangkan yang kecil disebut pita.

1.      Nekara Tipe Pejeng.
Tulisan Rumphius pada tahun 1705 menyebutkan sebuah nekara perunggu yang sangat besar di Desa Pejeng, Gianyar. Nekara ini oleh penduduk setempat disebut dengan nama “bulan pejeng”, dan dianggap sebagai roda bulan yang jatuh ke bumi.nekara pejeng ini berbentuk langsing bidang pukulnya yang menjorok keluar dari bagian bahunya berbentuk silinder atau lurus yang sama bentuknya pada bagian kaki. Nekara ini sangat besar dengan tinggi 190 cm dan garis tengah bidang pukul 160 cm.

Persebaran nekara tipe pejeng.
a.       Pulau jawa
b.      Pulau Bali.
c.       Pulau Lombok.
d.      Nusa Tenggara Timur.
e.       Kabupaten Flores Timur.
f.       Kabupten Alor

2.      Nekara Tipe Heger
            Kebanyakan nekara perunggu tipe Heger yang ditemukan di indonesia dari tipe I,II, dan IV. Nekara-nekara tersebut didapatkan dari penggalian tidak sengaja oleh penduduk atau penggalian secara sistematik oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pembelian, dan hadiah.
            Informasi awal mengenai nekara perunggu di Indonesia diberikan oleh G.E. Rumphius dalam bukunya yang berjudul D’Amboinsche Rariteitkamer.dalam buku tersebut Rumphius menjelaskan tentang beberapa temuan artefak batu dan logam di Indonesia.
            Orang Eropa lainya yang melaporkan tentang nekara adalah F.C. Chr Branchewitz. Daalam bukunya yang berjudul Ost-Indianische Reise Beschreibung (1730) ia mengemukakann adanya temuan nekara di pulau luang yang dikunjunginya pada tahun 1715.
            Pada tahun 1980 G.W.W.C. Baron Von Hovell melaporkan tentang temuan dua buah nekara dipantai du puau Kur (maluku). Begitu pula dengan J.A. van der Chijs yang bekerja di musium Batavia membawa nekara perunggu dari pulau Rote.

Penemuan nekara-nekara tipe Heger selanjutnya akan diuraikan, dimulai dari Pulau Sumatra hingga ke Irian Jaya.
a.       Pulau Sumatra.
b.      Pulau Jawa.
c.       Pulau Lombok.
d.      Pulau Sangeang.
e.       Pulau Sumbawa.
f.       Pulau Rote.
g.      Pulau Alor.
h.      Pulau Kalimantan.
i.        Pulau Selayar.
j.        Kepulauan Maluku.
k.      Irian Jaya.             

3.      Nekara yang Tidak Dibuat dari Perunggu.
            Bentuk ini ditemukan di Pasemah dalam pahatan di sebuah  batu besar, dan sebagai lukisan dengan cat pada dinding kubur batu. Di Bima, Sumbawa, ditemukan nekara yang dibuat dari batu yang berjumlah dua buah, yang terletak di lerang bukit. Batu besar dengan pahatan nekara disebut juga sebagai Batu Gajah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar