NEKARA
a.
Islitah
Nekara.
Nama nekara
terdapat dalam berbagai bahassa mulai dari Kettledrum sebagai nama yang sering
digunakan. Nama lokal di indonesia seperti bulan (sasih) untuk menyebut nama
nekara dari Pejeng (Bali), Tifa Guntur (maluku), makalamau(sangeang). Untuk
menyebut nekara tipe pejeng di pulau alor digunakan nama Moko, di pulau Pantar disebut Kuang,dan
di pulau Flores timur dinamakan Wulu.
Di Eropa, yaitu
di jerman nekara disebut dengan nama pauke, dalam bahasa belanda ketlertom,
dalam bahasa Denmark kedeltromen,dalam
bahasa Prancis tambour metaliqu. Beberapa
istilah tersebut pada umumnya memiliki arti yang sama yaitu genderang.
Di Asia tenggara
nekara dalam bahasa Vietnam disebut Dong-co
atau trong, myanmar hpaizi, Laos kammu, Thailand mahoratuk,
dan bahasa Malaysia gendang Don Son.
Nekara secara
proporsiaonal dibagi dalam tiga bagian,
yaitu bagian atas,tengah dan bawah. Bagian atas dibagi menjadi bidang pukul dan bahu. Bagian tengah atau sering juga disebut bagian pinggang.
Bagian bawah atau juga disebut bagian yang paling bawah berongga tidak
tertutup.
Pada nekara
terdaapat hiasan-hiasan yang dibagi dalam kelompok besar dan kecil. Dalam
kelompok besar kelompok ini di sebut ruang.
Sedangkan yang kecil disebut pita.
1.
Nekara
Tipe Pejeng.
Tulisan Rumphius
pada tahun 1705 menyebutkan sebuah nekara perunggu yang sangat besar di Desa
Pejeng, Gianyar. Nekara ini oleh penduduk setempat disebut dengan nama “bulan
pejeng”, dan dianggap sebagai roda bulan yang jatuh ke bumi.nekara pejeng ini
berbentuk langsing bidang pukulnya yang menjorok keluar dari bagian bahunya
berbentuk silinder atau lurus yang sama bentuknya pada bagian kaki. Nekara ini
sangat besar dengan tinggi 190 cm dan garis tengah bidang pukul 160 cm.
Persebaran
nekara tipe pejeng.
a.
Pulau
jawa
b. Pulau Bali.
c.
Pulau
Lombok.
d.
Nusa
Tenggara Timur.
e.
Kabupaten
Flores Timur.
f.
Kabupten
Alor
2.
Nekara
Tipe Heger
Kebanyakan nekara perunggu tipe
Heger yang ditemukan di indonesia dari tipe I,II, dan IV. Nekara-nekara
tersebut didapatkan dari penggalian tidak sengaja oleh penduduk atau penggalian
secara sistematik oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pembelian, dan
hadiah.
Informasi awal mengenai nekara
perunggu di Indonesia diberikan oleh G.E. Rumphius dalam bukunya yang berjudul D’Amboinsche Rariteitkamer.dalam buku
tersebut Rumphius menjelaskan tentang beberapa temuan artefak batu dan logam di
Indonesia.
Orang Eropa lainya yang melaporkan
tentang nekara adalah F.C. Chr Branchewitz. Daalam bukunya yang berjudul Ost-Indianische Reise Beschreibung
(1730) ia mengemukakann adanya temuan nekara di pulau luang yang dikunjunginya
pada tahun 1715.
Pada tahun 1980 G.W.W.C. Baron Von
Hovell melaporkan tentang temuan dua buah nekara dipantai du puau Kur (maluku).
Begitu pula dengan J.A. van der Chijs yang bekerja di musium Batavia membawa
nekara perunggu dari pulau Rote.
Penemuan
nekara-nekara tipe Heger selanjutnya akan diuraikan, dimulai dari Pulau Sumatra
hingga ke Irian Jaya.
a.
Pulau
Sumatra.
b.
Pulau
Jawa.
c.
Pulau
Lombok.
d.
Pulau
Sangeang.
e.
Pulau
Sumbawa.
f.
Pulau
Rote.
g.
Pulau
Alor.
h.
Pulau
Kalimantan.
i.
Pulau
Selayar.
j.
Kepulauan
Maluku.
k.
Irian
Jaya.
3.
Nekara
yang Tidak Dibuat dari Perunggu.
Bentuk ini ditemukan di Pasemah
dalam pahatan di sebuah batu besar, dan
sebagai lukisan dengan cat pada dinding kubur batu. Di Bima, Sumbawa, ditemukan
nekara yang dibuat dari batu yang berjumlah dua buah, yang terletak di lerang
bukit. Batu besar dengan pahatan nekara disebut juga sebagai Batu Gajah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar